Cinta Tanpa Syarat

Hari ini, John dan Ann Betar layak berbahagia. Mereka merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang ke 81. Pasangan asal Connecticut, Amerika Serikat yang menikah pada 25 November 1932 itu termasuk “makhluk langka” di sebuah negara adidaya seperti Amerika, dimana pernikahan dan keluarga bukan menjadi tema sentral pada umumnya kehidupan masyarakat mereka.

Ann saat ini berusia 98 tahun dan John berusia 102 tahun, mencoba mengingat kembali sumber utama perselisihan mereka. “Ini hanya tentang memasak. Itulah satu-satunya konflik yang pernah kami alami,” kata Ann. Dari pernikahan tersebut mereka dikaruniai 5 anak, 14 cucu dan 16 cicit. “Ini karena cinta tanpa syarat dan saling memahami,” ujar Ann.

Cinta Tanpa Syarat

Ungkapan Ann Betar tersebut sangat menarik, “Ini karena cinta tanpa syarat dan saling memahami.” Sering kita jumpai dalam kehidupan keluarga, suami dan isteri yang sering terlibat konflik berkepanjangan karena tidak mampu memahami pasangan. Bahwa dalam keluarga selalu ada perbedaan dan pertengkaran, itu wajar saja. Namun ketika suami dan isteri sudah menetapka “cinta tanpa syarat” dan saling memahami, maka perbedaan dan pertengkaran tidak membesar menjadi konflik yang merusakkan kebahagiaan keluarga.

Keluarga John dan Ann sudah pasti tidak terlepas dan problematika. Namun mereka sudah memiliki rumus dan cara untuk menghadapinya. “Pernikahan bukan sesuatu yang mesra. Selama 80 tahun, Anda belajar menerima cara hidup pasangan, kesepahaman, ketidaksepahaman, perselisihan tentang anak-anak kami, dan persiapan membesarkan anak-anak. Kepentingan utama adalah anak-anak,” ujar and Ann Betar.

Dalam wawancara dengan ABC, Ann dan John berbagi resep langgeng pernikahan mereka. “Akur, berkompromi, jalani hidup dengan penuh arti dan berguna,” ujar John. “Dan biarkan istrimu yang menjadi bos,” tambahnya. Sementara itu menurut Ann, untuk membuat sebuah hubungan pernikahan bertahan diperlukan suatu komitmen besar. “Kamu sudah tahu apa komitmenmu dan cobalah hidup dengan menjalani itu, memahami satu sama lain,” tuturnya.

Selama menjalani pernikahan hal tersulit yang pernah dialami adalah ketika mereka kehilangan dua anak. Keduanya sangat sedih, namun berhasil melalui cobaan tersebut dan kembali menjalani hidup hingga usia pernikahan mereka terus bertambah. Mereka berdua tidak larut dalam kesedihan, namun memilih fokus untuk hidup bahagia di sisa usai mereka bersama tiga anak yang masih ada dengan 14 cucu serta 16 cicit.

Mensepakati Rumus Kebahagiaan

Suami isteri harus memiliki rumus kebahagaiaan yang disepakati bersama. Bagaimana cara yang harus mereka tempuh untuk menjaga dan menguatkan kebahagiaan dalam keluarga, harus menjadi rumus yang disepakati bersama. Semakin lama usia pernikahan, semakin tua usia masing-masing pihak, harus semakin bijak dalam mensiasati kebahagiaan dalam kehidupan keluarga.

Banyak kegagalan dalam hidup berumah tangga, disebabkan karena ketiadaan rumus kebahagiaan antara suami dan isteri. Mereka belum menemukan rumus yang disepakati sebagai jalan menempuh kehidupan yang langgeng dan bahagia. Keduanya masih berjibaku mempertahankan dan memenangkan ego masing-masing. Tidak saling mengalah, tidak saling mendekat, tidak saling memahami, tidak saling mengerti. Akhirnya mereka tidak menemukan kebahagiaan dalam hidup berumah tangga.

Rumus kebahagiaan John dan Ann sederhana saja. “Ini karena cinta tanpa syarat dan saling memahami”.

Cobalah untuk mendapatkannya bersama pasangan anda.

 

sumber http://sosbud.kompasiana.com/2013/11/25/cinta-tanpa-syarat-611030.html

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s